Istilah tentang Gunung Berapi yang Perlu Kalian Tahu

Oleh:   tulisanndeso tulisanndeso   |   11/28/2017 08:34:00 PM
Pernahkah anda mendengar status sebuah gunung berapi? Status Siaga, Status Awas, atau istilah gunung berapi lainnya? Mungkin anda pernah bertanya-tanya mengenai status dan beberapa istilah yang digunakan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Seperti yang saat ini ramai diperbincangkan adalah mengenai status Gunung Agung yang berada di Bali.
Gunung Berapi

Berikut adalah status tingkatan Gunung Berapi dikutip dari dokumen Pengenalan Gunungapi yang diunggah di laman Kementerian ESDM.

Status Tingkatan Gunung Berapi

1. Aktif Normal (Level I)

Kegiatan gunungapi berdasarkan pengamatan dari hasil visual, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya tidak memperlihatkan adanya kelainan.

Jadi, status ini bisa dipantau hanya dari visual saja, melalui penglihatan mata kita. Jika tidak terdapat kelainan dari Gunung Api, maka statusnya adalah Aktif Normal.

2. Waspada (Level II)

Terjadi peningkatan kegiatan gunung api berupa kelainan yang tampak secara visual atau berdasarkan hasil pemeriksaan kawah, kegempaan dan gejala vulkanik lainnya.

Selain secara visual mengalami kelainan dibandingkan biasanya, kelainan juga bisa terlihat dari hasil pemeriksaan dari alat yang digunakan oleh BMKG.

3. Siaga (Level III)

Berdasarkan hasil pengamatan visual, pemeriksaan kawah, kegempaan dan metode lain yang saling mendukung, peningkatan kegiatan gunung api tersebut semakin nyata. Berdasarkan analisis, perubahan kegiatan tersebut akan cenderung diikuti oleh letusan.

Status siaga ini sudah jelas bisa dilihat secara visual dari adanya sebuah letusan dari Gunung Api yang ada.

4. Awas (Level IV)

Status ini menjunkukkan kondisi menjelang letusan utama gunung api tersebut. Tampak letusan awal mulai terjadi berupa abu dan asap. Berdasarkan analisis data pengamatan, letusan awal ini akan segera diikuti oleh letusan utama.
Indonesia merupakan negara yang dibentuk oleh tiga lempeng besar dunia, lempeng tersebut adalah ; lempeng Indo - Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik.
Selain ketiga lempeng besar dunia tersebut, masih terdapat lempeng Filiphina yang merupakan lempeng kecil juga dapat mempengaruhi terbentuknya pulau-pulau di Indonesia. Lempeng-lempeng ini memiliki arah gerakan yang masing-masing berbeda.
Lempeng Bumi
Berdasarkan gambar diatas, lempeng Eurasia yang berada di bagian utara Indonesia bergerak ke arah selatan-tenggara. Lempeng Indo - Australia bergerak ke arah timur laut Indonesia, dan lempeng Pasifik ke arah barat-barat daya Indonesia. Sedangkan lempeng Filiphina bergerak ke arah barat daya Indonesia.

Lempeng-lempeng tersebut selama berpuluh juta tahun lalu membentuk Gugusan Kepulauan Indonesia hingga menjadi seperti saat ini. Bahkan, lempeng-lempeng ini senantiasa terus bergerak dengan arahnya masing-masing.

Letak Indonesia yang diapit oleh lempeng-lempeng tersebut diatas, menjadikan negara ini memiliki banyak gunung api aktif. Gunung-gunung api di Indonesia tersebar di sepanjang barat-barat daya pulau Sumatera dan sebelah selatan pulau Jawa.

Gunung-gunung api di kedua pulau ini merupakan hasil interaksi dari lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Dalam istilahnya, rentetan jalur gunung api di daerah ini merupakan jalur pegunungan Sirkum Mediterania.

Sementara di wilayah utara Sulawesi merupakan jalur pegunungan Sirkum Pasifik. Kedua jalur pegunungan ini membentuk jalur pegunungan dunia yang dikenal dengan sebutan “Ring of Fire”.

Bagaimana Cara memprediksi Letusan Gunung Berapi?

Ahli vulkanologi Surono menganalogikan cara pemantauan gunung berapi dengan cara dokter memeriksa pasien.

“Jika dokter tersebut akan memeriksa denyut jantung, maka ahli vulkanologi akan memantau gempa vulkanik dan perubahan energi di dalam gunung,” kata Surono kepada Kumparan.

Menurutnya, sedikitnya terdapat tiga parameter dari gunung api yang bisa dipantau untuk mengetahui energi yang terdapat di dalamnya.

Adanya Gempa dan Getaran

Surono mencontohkan, seorang dokter menggunakan stetoskop untuk memeriksa denyut jantung pasien, sedangkan ahli gunung api menggunakan seismometer untuk memantau denyut gunung tersebut.
Seismograph
Denyut gunung tersebut adalah “berupa gempa vulkanik atau mungkin getaran menerus berupa tremor vulkanik”. “Tremor vulkanik itu bisa berupa macam-macam. Yang jelas itu perubahan tekanan ataupun perubahan energi yang mendorong fluida, bisa gas bisa magma, naik ke permukaan”.
Seismometer adalah alat untuk mencatat kecepatan getaran partikel tanah.
“Kecepatan kuadrat itu berbanding lurus dengan energi kinetik,” ujar Surono. Jadi, bisa dibilang, kecepatan getaran yang berasal dari gunung tersebut menunjukkan besar energi kinetik dalam gunung tersebut.

Temperatur

Menurut Surono, “Gunung api juga dipantau suhunya atau temperaturnya.”

Temperatur yang dipantau antara lain adalah temperatur gas yang berasal dari kawah gunung api itu dan temperatur mata air panas gunung api tersebut.

“Kalau temperaturnya naik, pasti ada sesuatu dalam gunung itu. Panas ini terkait dengan energi termal di dalam gunung agung itu. Kalau meningkat berarti energi termalnya meningkat,” terang Surono.

Kembang Kempis Gunung

Surono menambahkan, “Kemudian yang paling penting lagi adalah kembang kempisnya gunung.”

Jika aktivitas di dalam perut gunung meningkat, gunung tersebut dapat melembung karena ada desakan dari dalam oleh fluida. Fluida itu antara lain adalah magma, gas, ataupun uap air.

Laju melembungnya gunung api tersebut dapat diukur dalam orde milimeter per hari atau bahkan sentimeter per hari. Besarnya angka tersebut bergantung pada tingkat aktivitas di dalam gunung tersebut.
“Nah untuk gunung api, kembang kempisnya gunung itu terkait dengan energi potensial,” jelas Surono.

Ketiga parameter di atas, menurutnya, merupakan indikator minimal (minimum necessary) untuk memprediksi apakah suatu gunung berapi akan meletus.

Surono mengatakan, jika berdasarkan pemantauan pada ketiga parameter di atas suatu gunung api dinyatakan akan meletus, selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menghitung seberapa besar ancaman letusan gunung tersebut terhadap manusia.

Indonesia merupakan negara yang dikelilingi banyak gunung berapi. Oleh karena itu, ancaman gunung meletus selalu mengintai.

Beberapa istilah mengenai Gunung Meletus


Selain status gunung api dan cara memprediksi letusan gunung berapi, masih terdapat beberapa istilah yang sering digunakan ketika terdapat bencana gunung berapi.

1. Intrusi dan Ekstrusi

Instrusi adalah proses keluarnya magma menuju permukaan bumi, tetapi dari proses ini, magma tidak sampai ke permukaan bumi. Sedangkan ekstrusi merupakan keluarnya magma dari perut bumi dan sampai ke permukaan bumi.

Vulkanik merupakan gempa yang disebabkan oleh gunung berapi. Gempa ini karena adanya aktivitas magma di perut bumi menuju permukaan bumi. Magma tersebut keluar karena mendapatkan tekanan akibat panas di dalam bumi. Aktivitas ini meliputi intrusi dan ekstrusi.

2. Lava

Lava adalah cairan magma yang keluar dari perut bumi. Bentuk Lava adalah berupa cair, sehingga lava selalu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Daerah yang dilalui lava akan membentuk sungai atau lembah.

3. Dapur Magma

Dapur magma adalah rumah bagi magma yang ada di perut bumi. Dapur magma disebut juga batholit.

Dapur magma memiliki kedalaman yang bervariasi. Besar-kecilnya letusan suatu gunung api tergantung letak dapur magmanya. Semakin dalam letaknya, semakin besar kemungkinan gunung tersebut meletus dengan kuat.

4. Kubah Lava

Jika kecepatan lava yang keluar dari perut bumi lambat, lava dapat langsung membeku, dari lava yang keluar ini akan terus tertumpuk dan itu akan membentuk apa yang disebut dengan kubah lava atau “dome”.

Namun, perkembangan tinggi kubah tidak akan berlangsung terus menerus dengan laju yang sama walaupun suplai magma terus bertambah.

5. Awan Panas

Istilah awan panas dipakai untuk menyebut gabungan dari batu, kerikil, abu, pasir dalam suatu masa vulkanik panas yang keluar dari gunung api menuju lereng gunung dengan kecepatan bisa lebih dari 100 km per jam sejauh puluhan km.

Luncuran awan yang membentuk awan yang bergulung itu turun menuju lereng gunung dan akan terlihat menyala jika terjadi pada malam hari.
Wedhus Gembel Gunung Merapi

Warga sekitar Gunung Merapi Yogyakarta biasa menyebutnya dengan istilah ‘wedhus gembel’ atau dalam bahasa jawa berarti domba karena kejadian turunnya awan panas tersebut mirip seperti domba yang sedang menyusuri lereng.

6. Tremor

Proses berjalannya magma ke permukaan sebelum terjadinya erupsi menyebabkan getaran. Getaran tersebut biasa disebut dengan tremor.

Tremor sendiri biasanya bergerak secara perlahan dan masyarakat tidak selalu merasakan efeknya. Tremor dapat lebih mudah dilihat pada rekaman seismograf.

7. Lahar

Bercampurnya aliran lava dengan air dan lumpur akan membentuk apa yang disebut lahar. Percampuran itu mengubah sifat lava yang semula panas menjadi dingin.

Lahar memiliki sifat yang sama dengan air, yaitu mengalir menuju tempat yang lebih rendah. Lahar mengair dengan membawa material yang sebelumnya dibawa oleh lava seperti batuan besar, debu, lumpur, dan bom vulkanik, ditambah air atau lumpur

8. Prekursor

Prekursor adalah gejala awal gunung api sebelum erupsi. Gunung sebelum erupsi biasanya sudah menunjukan tanda-tanda perubahan yang dapat ditangkap dengan panca indera manusia atau hanya dapat dideteksi dengan alat.

Namun secara umum, beberapa tanda tersebut adalah berubahnya warna asap menjadi semakin tebal dan pekat, meningkatnya jumlah gempa-gempa yang terekam oleh seismogram, alat pekaman gerakan tanah atau grafik aktivitas gempa bumi sebagai fungsi waktu yang dihasilkan oleh seismometer.

Berubahnya komposisi kimia gas atau air, meningkatnya derajat suhu kawah dan terjadinya deformasi tubuh gunung. Deformasi secara sederhana dapat diartikan dengan perubahan sebuah benda dari kondisi awal ke kondisi saat.

9. Erupsi Efusif dan Eksplosif

Erupsi atau letusan gunung berapi terdiri dari dua jenis. Mereka adalah erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

Erupsi efusif adalah peristiwa keluarnya magma ke permukaan bumi. Proses keluarnya magma pada erupsi tersebut tanpa diikuti dengan ledakan. Jenis material yang dikeluarkan oleh erupsi efusif adalah material cair (lava), lava pijar yang keluar dari perut bumi kemudian mengalir ke lereng gunung.

Sementara itu  eksplosif. Berbeda dengan efusif, terjadinya erupsi eksplosif disertai dengan adanya tekanan yang kuat, sehingga terkadang menimbulkan menimbulkan suara dentuman.

Apakah Pemanasan Global Memicu Lebih Banyak Erupsi Gunung Berapi?

Sebuah riset terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Leeds, Inggris, menemukan bahwa pemanasan global (global warming) dapat memicu lebih banyak erupsi gunung berapi di masa depan.

“Pemanasan global yang disebabkan oleh manusia membuat lapisan es di wilayah yang aktif secara vulkanis mencair lebih cepat. Di Islandia sendiri hal ini menyebabkan erupsi gunung berapi semakin sering terjadi,” kata Graeme Swindles, salah satu peneliti dari University of Leeds tersebut, sebagaimana dilansir International Business Time.

Penelitian itu menjelaskan, perubahan suhu di atmosfer menyebabkan penurunan tekanan di bawah permukaan Bumi. Akibatnya, semakin banyak lapisan mantel bumi meleleh dan kemudian menyebabkan erupsi.

Itulah beberapa informasi mengenai Status Gunung Api, cara memprediksi Letusan Gunung Api, dan beberapa Istilah yang sering digunakan dalam bencana Gunung berapi di Indonesia. Tulisan ini adalah hasil menulis ulang dari berbagai sumber, dengan sumber utama dari Kumparan.com. Semoga dapat bermanfaat dan menambah wawasan.
Loading
Love This Article?

Tampilkan Komentar